Samarinda, 4 Oktober 2025 — Pembelajaran di luar kelas menjadi sorotan di SMAN 16 Samarinda melalui kegiatan ”GEOGRAFI & SOSIOLOGI EXPLORER”. Sebanyak satu kelas siswa, yaitu Kelas XII-7, terlibat aktif dalam penelitian lapangan di dua lokasi ikonik Samarinda: Desa Budaya Pampang dan Kampung Ketupat. Kegiatan ini mengusung pendekatan inkuiri kolaboratif antar mata pelajaran, menggabungkan lensa Geografi dan Sosiologi untuk mengupas tuntas materi Pengembangan Wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi apik antara mata pelajaran Geografi yang diampu oleh Bapak Akhmadi, S.Pd., Gr., dan mata pelajaran Sosiologi yang dibimbing oleh Ibu Suci Sari Nur Zubaedah, S.Pd., Gr. Observasi dan wawancara dipimpin oleh guru mata pelajaran Geografi dan Sosiologi, rombongan siswa Kelas XII-7 yang berjumlah sekitar 36 orang dibagi menjadi dua kelompok besar. Masing-masing kelompok diberangkatkan untuk melakukan observasi, wawancara, dan pendalaman materi langsung di lapangan.

Kelompok pertama, yang terdiri dari sekitar 18 siswa, berfokus pada Desa Budaya Pampang. Di lokasi yang kaya akan warisan Suku Dayak Kenyah ini, siswa tidak hanya mengamati aspek budaya yang kental, tetapi juga menganalisis bagaimana budaya lokal berperan sebagai modal dalam pengembangan wilayah wisata dan pemberdayaan masyarakatnya. Mereka menggali informasi melalui wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat setempat, mengaitkan mata pelajaran Sosiologi tentang interaksi sosial dan pelestarian budaya dengan konsep Geografi mengenai potensi wilayah.

Sementara itu, Kelompok kedua menuju ke Kampung Ketupat di Samarinda Seberang. Sebagai ikon wisata yang terkenal dengan kerajinan ketupat dari daun nipah di tepian Sungai Mahakam, siswa ditantang untuk mengamati dinamika sosial-ekonomi masyarakat. Fokus utama mereka adalah bagaimana mata pencaharian tradisional dan status kampung wisata memengaruhi pola permukiman dan perencanaan tata ruang lokal. Guru Geografi secara khusus mengarahkan observasi dan wawancara untuk mendalami topik pengembangan wilayah, melihat tantangan dan peluang yang dihadapi komunitas di bantaran sungai.

Dengan bekal pengetahuan mengenai metode dan langkah-langkah penelitian sosial yang telah diberikan sebelumnya di kelas, para siswa melaksanakan penelitian lapangan dengan penuh semangat. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan observasi langsung dan mewawancarai masyarakat setempat. Topik yang diangkat pun relevan dengan kedua mata pelajaran, yakni “Pengembangan wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat”. Bapak Akhmadi, S.Pd. Gr., selaku guru Geografi, menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori di buku, tetapi juga mampu menganalisis fenomena geosfer secara langsung dan bagaimana mereka bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar ujarnya. Senada dengan itu, Ibu Suci Sari Nur Zubaedah, S.Pd., Gr., menambahkan bahwa dari sudut pandang Sosiologi, kegiatan ini melatih siswa untuk menjadi peneliti sosial yang peka. “Melalui wawancara, mereka belajar memahami perspektif masyarakat, menganalisis struktur sosial, dan melihat dampak dari program pemberdayaan. Kemampuan komunikasi dan empati mereka benar-benar diuji dan dikembangkan di sini,” jelasnya.

Kegiatan “Geografi dan Sosiologi Explorer” ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman tak terlupakan, tetapi juga pengetahuan baru yang mendalam bagi siswa SMA Negeri 16 Samarinda. Lebih dari itu, program ini menjadi penanda semangat baru dan langkah awal sekolah dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam dengan model inkuiri kolaboratif antar mata pelajaran, mempersiapkan siswa menjadi pembelajar seumur hidup yang kritis dan solutif.

